//audio player

Monday, 23 December 2013

Assalamualaikum,, .
 Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberi saya kesehatan dan kesempatan untuk memposting di blog yang saya kelola ini. Setelah beberapa bulan vakum karena kesibukan kuliah dan tugas tugasnya. Kali ini saaya akan berbagi kepada anda sebuah nasyid yang cukup indah, dan nasyid ini selalu saya putar dalam menemani mengerjakan tugas dan berfacebook ria :v.
Berikut klasfikasi nasyid yang akan saya bagi:


Judul          : Sharaabul Hubb (Minuman Cinta (pada Allah))         Tipe       : No Music
Musnyid    : Humood al-Khuder                                                   Negara  : Kuwait

Nasyid ini lirik dan isinya sangat bagus, berbicara tentang kecintan kita pada Allah, Cinta sejati yang tak boleh hilang dari sanubari seorang muslim, saya rasa setiap muslim harus menontonnya :)
Selamat menikmati :)

 Lirik:

شراب الحب يعرف بالمذاق
The drink of Love is known by its taste

وما كل السقاة له بساق
Not all those who present it possess it

احب الله عن ادب وصدق
I love Allah with respect and sincerity

ولا ارضى سوى التقوى خلاقي
And I do not accept but piety to be my

اذا ما عشت لا انسى إلهى
As long as I live, I will never forget my Lord

به اسمو من الاخرى المراق
With it my ranks will be raised in the hereafter

يعز علي ترك الحب عندي
It is very tough for me to leave the Love I have

ولو بلغت الروح التراقي
Even when my soul has reached the throat

تركت جميع خلق الله دوني
I left all the creatures of Allah except myself

شُغلت عن الخلائق باشتياق
My solicitude dragged me away from all creation

وشـوقي قَد مَزجــت به رجـائي
My hope mixed up with my longing

على خــوفٍ فمن خوفي مَـذاقي
Out of fear and for fear of my taste

ومن عرف المحبة عن يقين
And whosoever realized the truth of Love

حرام ان يميل للفراق
Forbidden for him is to desire seperation

وكيف احب غير الله يوما
How can I love other than Allah a single day

وليس سواه في الاكوان باقٍ
There is no one who is ever-lasting except Him

Download mp3: Download


Isra’ mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian isra’ mi’raj. Namun, Isra’ mi’raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas isra’ mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah.
Mari kita mendudukkan masalah isra’ mi’raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits sahih. Kemudian sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan isra’ mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam mengambil hikmah peringatan isra’ mi’raj adalah menggali inspirasi saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah.

Kisah dalam Al-Qur’an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang isra’:  “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:  “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah.
Kemudian didatangkan buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi SAW salat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau.”
Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia:  sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib. Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Aku telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah salat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan jasad fisik hingga bisa salat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu’min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi  manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi SAW), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Hakikat Tujuh Langit

Peristiwa isra’ mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an.  Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?
Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur’an  tidak  selalu menyatakan  hitungan  eksak  dalam  sistem desimal. Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu  pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: “Siapa  yang  menafkahkan  hartanya di  jalan  Allah  ibarat  menanam  sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai  yang masing-masingnya     berbuah    seratus    butir. Allah  melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….” Juga di dalam Q.S. Luqman:27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai  pena dan  lautan  menjadi tintanya dan  ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….” Jadi  ‘tujuh langit’ lebih mengena bila  difahamkan  sebagai  tatanan  benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah isra’ mi’raj?  Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama,  matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.
Pengertian langit dalam kisah isra’ mi’raj bukanlah  pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah isra’ mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ mi’raj adalah mu’jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu

Isra’ mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.
Kita hidup di alam yang dibatas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detil tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti.
Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua.
Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua  (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.
Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak dibatas oleh ruang.
Rasulullah bersama jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril  dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18). Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks istra’ mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.

Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah

Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan isra’ mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa isra’ mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah salat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.
“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan penglihatan (saat isra’ mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia …”
Pemahaman dengan pendekatan konsep ektra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait isra’ mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikhotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).
Pada sisi lain isra’ mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal ibadah. Makna penting isra’ mi’raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah salat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan salat sebagai ibadah utama dalam Islam. Salat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Salat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab  (Al  Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat  Allah  (shalat) adalah  lebih  besar  (keutamaannya  dari  ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45).
Isra’ dan mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak lagi direpotkan harus melihat langsung fenonema cahaya matahari atau bayangannya setiap akan shalat. Kini semua ummat Islam Indonesia, apa pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis dalam penyusunan jadwal shalat.
Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab) maupun untuk pengamatannya (rukyat). Penentuan awal Ramadhan atau hari raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria astronomisnya. Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya.
Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan Rasullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ada ketentraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fitrah, shalat hari raya, Shaum di bulan Syawal,  shaum Arafah)
Isra’ mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu.

Sumber : Prof. Dr. Thomas Djamaluddin || Professor LAPAN
Assalamualaikum,, .

Problematika yang dialami oleh sebagian umat Islam  saat ini diantaranya adalah munculnya semacam kebingungan ketika hasil penemuan sains tampaknya bertentangan dengan Al Qur’an, lalu muncullah upaya untuk menginterpretasikan ayat-ayat Al Qur’an agar sesuai dengan pernyataan sains. Pada pemahaman saya, perlu kehati-hatian ketika seseorang mencoba membandingkan antara teori dalam sains dengan ayat-ayat dalam AlQur’an.. Permasalahannya, kebenaran yang diungkapkan sains merupakan kebenaran yang relatif. Sebuah teori dalam sains bisa digantikan oleh teori lainnya, apalagi jika begitu banyak hal-hal yang masih belum jelas tentang fenomena yang menjadi objek dari teori tersebut. Teori relativitas Einstein sebagai contoh merevisi teori mekanika klasik Newton berkenaan dengan konsep ruang dan waktu. Dalam biologi, berbagai pandangan atau teori tentang asal usul kehidupan pernah muncul seperti teori abiogenesis atau generatio spontanea-nya Aristoteles yang selanjutnya digantikan oleh teori biogenesis: omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo, omne vivum ex vivo- dari hasil-hasil percobaan Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani dan Louis Pasteur. 

Perbedaan tafsir AlQur’an tentang asal usul manusia 

Perbedaan pandangan terhadap tafsir ayat-ayat AlQur’an merupakan suatu hal yang lumrah terjadi, demikian pula halnya tafsiran tentang kisah bagaimana Allah Swt menciptakan Adam as sebagai manusaia pertama. Pandangan umum para mufasirin menyatakan bahwa Adam as adalah manusia pertama yang diciptakan Allah swt dari tanah, dan tidak memiliki keterkaitan asal-usul dengan makhluk lain sebelumnya.

Kendati demikian pandangan lain muncul, misal bahwa Adam as bukanlah manusia pertama dalam arti biologis, tetapi manusia pertama dalam arti spiritual.  Abdul Shabur Syahin dalam bukunya “Adam Bukan Manusia Pertama ?” (2004), misalnya berkeyakinan bahwa manusia pertama yang diciptakan Tuhan dari tanah bukanlah Adam, tetapi sesosok “Basyar” yang tidak memiliki kesadaran, kemanusiaan insaaniyah. Dalam perjalanan waktu yang panjang, menurut Syahin, Tuhan menyempurnakan ciptaannya menjadi “Insaan” yang dilengkapi dengan kesadaran kemanusiaan (mata, pendengaran, hati), dan menurut Syahin itulah yang dimaksud sebagai Adam.

Pada pemahaman penulis, sebetulnya istilah “basyar”  digunakan AlQur’an tanpa merujuk pada masa sebelum manusia menjadi insan. Jadi istilah “basyar” dan “insaan”  tidak dapat diartikan sebagai suatu tahapan proses atau tingkatan kejadian, karena dalam diri manusia ada unsur basyar (biologis) dan insaaniyah secara terpadu, terintegrasi.  Jika Basyaar diartikan sebagai makhluk biologis tanpa rasa kemanusiaan, dan yang merupakan cikal bakal insan, makhluk yang diberi beban untuk mengenal dan beribadah kepada Tuhannya, kita akan menemukan kesukaran diantaranya untuk mengartikan ayat ketika Allah berfirman: “Ana basyarun mitslukum, yuuha illayya annamaa ilaahukum ilaahuwwaahid..” bahwa Rasulullah hanyalah “basyar” manusia (makhluk biologis) biasa sebagaimana manusia lainnya, hanya saja diwahyukan kepadanya firman dari Allah. Bagaimana mungkin Rasul sebagai “basyar” apabila itu diartikan hanya makhluk biologis tanpa kesadaran insaaniyah, tiba-tiba menjadi nabi tanpa menjadi “insaan” terlebih dahulu ? karena ayat tersebut tidak berbunyi “Ana insaanum mitslukum…”  

Pandangan Syahin sebenarnya tidak berbeda dengan Bucaille bahwa manusia mengalami proses transformasi. Maurice Bucaille dalam bukunya ”What is the origin of Man” (1983), misalnya, tidak menggunakan kata to create atau menciptakan sebagai terjemahan dari  khalaqa, tetapi ia menggunakan istilah to fashion atau to form in due proportion. Bucaille meyakini bahwa teori evolusi Darwin berlaku pada organisma selain manusia, hal ini karena menurutnya fakta-fakta paleontologi tak terbantahkan, tetapi berkenaan dengan manusia sendiri Bucaille menyatakan bahwa yang terjadi adalah suatu creative evolution dimana Tuhan  melakukan modifikasi atau transformasi dalam perjalanan waktu, sesuai dengan rencana yang telah ditentukan-Nya. Pokok pikiran Bucaille dalam buku tersebut, sebagaimana juga yang tertuang dalam buku beliau sebelumnya La Bible le Coran et la Science adalah bahwa ayat-ayat Al Qur’an tentang berbagai fenomena di alam, wabilkhusus berkaitan dengan asal-usul makhluk hidup, proses-proses biologis pada organisme hidup, tidak bertentangan dengan fakta yang ditemukan sains.  

Mahmoud Ayoub (Republika, 9 April 2003) menulis bahwa di antara kaum reformis Muslim abad ke-19 yang menanggapi Darwinisme adalah Jamaludin al-Afghani, yang menulis karya Al-Radd al-Dahriyyin (Penyangkalan atas Materialisme). Afghani mengkritik pandangan bahwa alam ini tak memiliki awal, dan merasa bahwa prinsip ini menghilangkan perlunya intervensi Tuhan dalam keberadaan alam semesta.  Di sisi lain, kaum sekularis, seperti Isma’il Mahzar, seorang intelektual Mesir, sengaja memanfaatkan Darwinisme untuk melawan agama. Ia melihat teori Darwin dapat membebaskan manusia dari kungkungan otoritas agama. Ayoub memandang bahwa sebagian orang yang ingin mempertahankan agama menolak teori Darwin; di sisi lain, orang yang ingin meruntuhkan otoritas keagamaan memanfaatkan teori Darwin.

Meskipun demikian, pendekatan yang dipakai lebih banyak Muslim, hingga saat ini, adalah upaya mengharmoniskan agama dengan teori evolusi. Beberapa pemikir, seperti Al-Manshuri, Muhammad Rashid Ridha, dan Husayn al-Jisr berupaya menafsirkan Alquran sedemikian sehingga tampak Alquran sepenuhnya mendukung teori evolusi. Maurice Bucaille dan Syahin tampaknya termasuk dalam kelompok ini, walaupun Bucaille menerima bahwa teori evolusi berlaku pada  makhluk hidup lain, tetapi tidak pada manusia.Ayoub memandang bahwa sebagai cerminan penciptaan alam semesta dalam proses evolusi diyakini oleh banyak sufi dan filosof Muslim, seperti Ibn ‘Arabi dan Jalaluddin Rumi, evolusi dapat dengan mudah diterima oleh Muslim sepanjang itu tak meniscayakan pandangan ateistik.  Benarkah teori evolusi itu dapat dengan mudah diterima oleh (sebagian besar) Muslim sepanjang itu tak meniscayakan pandangan ateistik ? Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat tergantung pada tingkatan pemahaman Muslim ybs terhadap apa yang dimaksud dengan teori evolusi.

Apabila pandangan tentang teori evolusi itu dikaitkan dengan asal-usul manusia maka pernyataan bahwa teori evolusi itu diterima oleh  sebagian besar Muslim rasanya tidak benar. Seperti dinyatakan sendiri oleh Ayoub bahwa bagi sebagian besar Muslim gagasan Adam sebagai manusia pertama itu merupakan gagasan yang sangat populer. Mengapa populer ? karena gagasan ini lebih mendekati interpretasi dari ayat-ayat Al Qur’an yang bercerita tentang penciptaan manusia pertama dari ketidak-adaan bapak dan ibu biologis. Al Qur’an juga mengisahkan bahwa penciptaan Isa as yang unik karena tidak ada bapak biologisnya adalah semisal penciptaan Adam as, yang bahkan tanpa bapak dan ibu biologisnya. Pesan moral dari terciptanya Adam yang tanpa orang tua biologis, dan penciptaan Isa yang tanpa bapak biologis adalah untuk menunjukkan kekuasaan Allah Swt yang dapat berbuat sesuai kehendak-Nya. Jika seorang Muslim tidak bisa menerima  pesan ini, bagaimana keimanannya terhadap Allah swt yang Maha berkehendak ?    

Tidak ada satu ayatpun dari Al Qur’an yang mendukung gagasan bahwa Adam bukan manusia pertama. Ayat yang dikutip Ayoub (Q.S. 2; 30) yang berisi perbincangan antara Allah swt dengan Malaikat memang kerap ditafsirkan bahwa ada makhluk lain, mirip manusia bahkan mungkin sudah ada umat manusia itu sendiri, di muka bumi sebelum manusia yang bernama Adam itu diturunkan, dan makhluk ini ternyata telah saling menumpahkan darah diantara mereka. Ada beragam kemungkinan, Ibnu Katsir memahami bahwa makhluk yang telah ada itu adalah dari kelompok jin, dan dalam konteks ini maka pengertian saling menumpahkan “darah” menjadi suatu istilah yang tidak biologis lagi sifatnya, paling tidak bukan “darah” sebagaimana yang kita fahami. Interpretasi ini sangat mungkin karena Al Qur’an menyebut secara berulang kewajiban jin dan manusia diantaranya: “dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.

Kemungkinan lainnya adalah bahwa dengan Allah sendiri yang memberitahu Malaikat akan karakter Adam akan tetapi dalam AlQur’an dialog tersebut tidak disampaikan Allah dengan detail.  Tetapi kalaupun makhluk yang sebelum Adam itu adalah makhluk biologis,  bisa jadi makhluk tersebut adalah kelompok Dinosaurus yang telah ada jauh sebelum manusia ada atau mungkin monyet sekalipun tidak ada indikasi sama sekali bahwa makhluk tersebut adalah nenek moyang manusia, namun ayat tersebut tidak dapat diinterpretasikan bahwa manusia adalah keturunan dari makhluk yang telah ada sebelumnya walaupun makhluk tersebut mungkin sangat mirip dengan manusia. Pertanyaan muncul, mengapa penciptaan itu harus evolusioner dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan ? Apakah ini tidak berarti bahwa Allah coba-coba dulu dalam penciptaan, semacam try and error dimana yang fit akan terus hidup, sementara yang tidak fit akan punah ? Bukankah Allah swt adalah the “Supreme Designer” yang mendisain, membentuk dan menciptakan makhluk dengan beranekaragam keunikannya masing-masing dan siap untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungannya ?    


Gerakan Harun Yahya 


Penolakan terhadap teori evolusi dari kalangan muslim mencapai tahap yang cukup fenomenal saat ini dengan gencarnya terbitan karya-karya Harun Yahya (Adnan Oktar) yang berasal dari Turki. Lewat berbagai buku-buku dan VCD-nya yang bersifat sains populer, diantaranya ”Evolution deceit” yang diterjemahkan ”Keruntuhan teori evolusi” (2001), Harun Yahya menyuarakan penolakan terhadap teori evolusi Darwin yang dipandangnya mengusung materialisme, sekularisme dan atheisme. Harun Yahya menggunakan data-data sains mutakhir untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya secara ilmiah dengan temuan sains modern, teori evolusi sudah terbantahkan. Hanya saja, teori evolusi tampaknya sudah menjadi semacam kepercayaan, dogma, bahkan ”agama” bagi sementara kalangan the so called ilmuwan itu, karena dianggap satu-satunya teori yang memberi penjelasan mengapa begitu banyak dan begitu bervariasi makhluk hidup  di dunia ini sejak zaman dahulu hingga sekarang,  sehingga fakta-fakta ilmiah apapun yang muncul bagi mereka tidak akan menggoyah keyakinan mereka akan teori evolusi. Ketika ini sudah merasuk kedalam domain keyakinan dan dogma, rasanya sulit untuk bersifat obyektif.  Kritik yang kerap dilontarkan terhadap Harun Yahya terutama berkaitan dengan metodologinya. Harun Yahya memang bukan seorang Biolog atau Palaentolog, dan karya-karyanya memang bukan karya ilmiah untuk konsumsi jurnal ilmiah atau buku teks di perguruan tinggi. Harun Yahya juga tidak melakukan penelitian ilmiah berkaitan dengan teori evolusi ini. Dia ”hanya” mengemukakan berbagai fakta temuan sains modern saat ini dan mengemasnya dalam perspektif non-evolusionis. Kata ”hanya” itu sebetulnya merupakan sesuatu yang besar, mengingat fakta ilmiah dapat diinterpretasikan sesuai dengan cara pandang, paradigma para ilmuwan yang mengemukakannya.   

  
Penciptaan makhluk hidup sebagai sebuah mu’jizat (miracle) 


Penciptaan makhluk hidup oleh Tuhan (sebagai Al-Khaliq), dalam pandangan pada umumnya umat Islam, merupakan suatu mu’jizat (miracle), karena proses yang terjadi merupakan suatu yang luar biasa, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh manusia, makhluk yang dikarunia akal, dalam jaman modern dan kemajuan sains dan teknologi tercanggih sekalipun,  apatah lagi oleh makhluk lainnya atau oleh alam yang relatif “tidak berakal”. Selain itu, disebut sebuah miracle, karena  ketika menciptakan berbagai hal, termasuk makhluk hidup, Allah Swt hanya cukup berfirman “Kun fa yakun”, jadi maka jadilah. Pengertian “fa” memang oleh beberapa pandangan diarikan sebagai melalui suatu proses yang boleh jadi memakan waktu panjang, artinya tidak mesti terjadi seketika. Tetapi, kalaupun itu sesuatu yang terjadi dengan langsung, bukankah Allah maha Kuasa atas segala sesuatu ? Tidak terbatas atau dibatasi oleh ruang dan waktu.   Fenomena kehidupan itu sendiri merupakan suatu mu’jizat, mengingat begitu kompleksnya fenemena kehidupan bahkan yang terjadi dalam satu sel sekalipun. Alam, manusia adalah makhluk yang tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. 


Hak mencipta hanya pada Allah 

Hak menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada, hak menghidupkan dan mematikan sesungguhnya hanya pada Allah Swt. “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam” (Q.S.7:54). Manusia tidak memiliki hak untuk menciptakan itu, kecuali atas izin Allah Swt. Mu’jizat yang pernah diberikan Allah Swt kepada nabi Musa as untuk membuat atau menciptakan seekor burung dari tanah liat (3:49, 5:110) hanyalah bisa terjadi atas izin dan kehendak Allah Swt. Tidak ada satu makhlukpun dimuka bumi ini, termasuk manuisa dan sesembahannya selain Allah, yang mampu menciptakan setipis kulit ari sekalipun atau seekor lalat.  Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. (Q.S.35:13). Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah (Q.S.22:73). Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?” (Q.S.10:34). Ketika seorang mengatakan bahwa makhluk hidup terbentuk secara alamiah melalui mekanisme evolusi, sebetulnya hal tersebut, saya khawatirkan bisa jatuh ke dalam domain menjadikan alam memiliki kuasa, memiliki kemampuan untuk membentuk, mengatur, mendesain, merekayasa dengan suatu derajat kecanggihan yang luar biasa. Bagi sains, alam tampaknya menjadi semacam Tuhan yang mampu mengatur segalanya melalui mekanisme seleksi alam, kehendak alam, hukum alam, ketentuan alam, dst.  

Manusia diciptakan dalam beberapa tingkat kejadian 
Ayat-ayat yang kerap diinterpretasikan sebagai mendukung paham adanya pentahapan dalam penciptaan makhluk hidup adalah ayat-ayat berikut yang mengindikasikan adanya ”tingkatan” dalam penciptaan. Mufassir pada umumnya mengartikan kata ”tingkatan” sebagai sebagai tahapan dari dalam rahim hingga dilahirkan, dan dari tahapan bayi hingga dewasa/tua. Sebagian lagi menginterpretasikan ayat-ayat ini untuk mengindikasikan tahapan yang panjang (evolusioner) dalam penciptaan manusia dan makhluk hidup pada umumnya, untuk menunjukkan bahwa AlQur’an sesua dengan sains modern. 71:14. Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. 84:19. sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) 22:5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. 23:14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. 5:11. Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan).  


Manusia dibentuk dalam rahim 


Proses pembentukan manusia (growth and development) berlangsung dalam rahim, dari semula zigot lalu mengalami proses embryogenesis hingga menjadi bayi dengan sel-sel dan jaringan yang terdiferensiasi dengan fungsi-fungsi yang spesifik. Sebagian mengartikan ayat-ayat ini sebagai menjelaskan adanya perubahan bentuk morfologi manusia dalam perjalanan waktu yang panjang secara evolusioner, dari bentukan yang primitive hingga terbentuk wujud yang “sempurna” (ahsani taqwiem) seperti saat ini.   3:6. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 13:8. Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. 23:13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 75:37. Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), 77:21. Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), 20:64. Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. 59:24. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 64:3. Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali (mu). 77:23. lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. 7:23. lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. 82:8. dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu. 95:4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. 39:6. Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.  Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?  


Menciptakan manusia dan makhluk hidup lainnya adalah hal yang mudah bagi Allah. 

Manusia, sebagaimana juga makhluk lainnya,  memiliki morfologi, struktur, anatomi, fisiologi, genetika yang sangat mengagumkan. Kendati demikian bagi Allah penciptaan manusia dan makhluk hiudp lainnya adalah suatu hal yang sederhana. Allah yang menciptakan manusia pada kali pertama, akan menciptakan manusia, membangkitkan manusia dari kuburnya pada hari kiamat nanti dengan sangat mudahnya, tanpa perlu sebuah peristiwa evolusi yang rumit dan panjang. 29:19. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali).  Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. 29:20. Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 32:7. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Bila dibandingkan dengan penciptaan langit dan bumi, kerumitan penciptaan manusia jauh lebih sederhana. Allah Swt sendidi yang menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya: 40:57. Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Karena itu dapat dipahami bahwa penciptaan langit dan bumi memerlukan masa yang sangat panjang, bertahap, evolusioner jika mau disebut demikian, tetapi penciptaan manusia dan makhluk hidup lainnya (organik) yang menghuni planet bumi ini adalah hal yang jauh lebih mudah  bagi Allah, dan karena itu mestinya tidak memerlukan proses pentahapan yang panjang (umur geologis). Dalam konteks ini dapat dipahami bila teori evolusi itu lebih pas untuk dialamatkan pada proses pembentukan langit dan bumi, tetapi tidak perlu bagi proses penciptaan manusia dan makhluk hidup lainnya. Proses pentahapan dalam penciptaan manusia saya lebih cenderung mengartikannya sebagai proses embriologis dan dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan (growth and development) secara biologis. Paham bahwa ontogeni mengulang filogeni lebih merupakan sebuah perkiraan yang tidak didukung bukti-bukti yang kuat. 


Penciptaan binatang sebagai suatu mu’jizat nabi. 

AlQur’an menjelaskan beberapa peristiwa yang terjadi pada beberapa nabi: nabi Isa as, nabi Musa as dan nabi Ibrahim as berupa mu’jizat atau kejadian luar biasa untuk membuktikan kenabian mereka dihadapan umatnya atau untuk meyakinkan para nabi tersebut agar semakin bertambah keyakinan (keimanan) mereka. a. Penciptaan burung melalui nabi Isa 3:49. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel ( yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” 5:110. (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.”   b. Penciptaan ular  melalui tongkat nabi Musa 7:107. Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. 20:20. Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. 26:32. Maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata. 27:10. dan lemparkanlah tongkatmu”. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku. 28:31. dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh.  (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. c. Penciptaan burung (kembali) atas permintaan nabi Ibrahim 2:260. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.  


Penciptaan dan pembentukan Adam 

7:11. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis.  Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. 

15:26. Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. 15:28. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. 15:33. Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk“. 3:59. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. 6:2. Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). 7:11. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis.  Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. 7:12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.  Penciptaan Isterinya Adam Siti Hawa, demikian disebut namanya dalam beberapa riwayat (hadits) adalah pasangan (jauzah) Adam as yang secara ringkas disebut dalam AlQur’an sebagai berasal dari (bagian tubuh) Adam. Sebuah hadits shaheh menyebutnya sebagai berasal dari tulang rusuk Adam. Dari satu-satunya isterinya inilah kemudian Adam memiliki beberapa pasang anak yang selanjutnya menurut riwayat, terjadi perkawinan diantara anak-anak Adam itu dengan anak-keturunannya semua manusia yang ada di muka bumi hingga saat ini dan sampai akhir jaman.   4:1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.  7:189. Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.  

Penciptaan Isa 
Fenomena penciptaan nabi Isa as yang tidak memiliki bapak biologis jelas merupakan fenomena yang diluar kebiasaan, dan itu merupakan bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah Swt. Allah Swt yang telah menciptakan Adam tanpa bapak dan ibu biologis, akan sangat mudah bagi-Nya untuk menciptakan manusia lain tanpa bapak biologis saja. 3:47. Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. 3:59. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. 3:47. Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. 3:59. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.  

Manusia dikutuk menjadi kera 
Sebuah peristiwa terjadi terhadap Bani Israel ketika sekompok orang yang melanggar perintah sabath (keluar pada hari sabtu) dikutuk menjadi kera akibat ulah mereka. Peristiwa tersebut menurut Ibnu Katsir terjadi dengan perubahan fisik, namun kera-kera tersebut tidak bertahan lama. Ini peristiwa yang berlangsung dengan cepat, tanpa melalui perubahan bentguk yang evolusioner, tetapi arah perubahan menjadi memburuk baik secara fisik maupun secara kejiwaan.   2:65. Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”. Secara kejiwaan, ancaman degradasi terhadap kualitas kemanusiaan kerap muncul dalam AlQur’an, sebagai ancaman bagi orang-orang yang tidak patuh terhadap perintah Allah. Hal tersebut menyebabkan manusia ayang semula diciptakan dalam bentuk yang sebagus-bagusnya (secara fisik dan kejiwaan) lalu turun ke derajat yang serendah-rendahnya (tsumma rodadnaahu asfala saafiliin).    
Penciptaan makhluk hidup dari air  Berkenaan dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air, para mufassirin umumnya berpendapat bahwa air yang dimaksud disini adalah sperma, dan atau bahwa komponen utama makhluk hidup (60-70 %) adalah air. Tidak menutup kemungkinan interpretasi lainnya bahwa kehdupan dimuali dari kondisi perairan. Pertualangan mencari makhluk hidup di planet lain, selalu dimulai dengan upaya mencari jejak-jejak air di planet tersebut. Dalam berabagai ayat lain, turunnya hujan menjadi awal munculnya kehidupan tumb uhan yang kemudian menjadi susmber makanan bagi hewan-hewan dan manusia. 24:45. Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 25:54. Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. 36:77. Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!  Penutup Barangkali tidak akan pernah ada penjelasan ”ilmiah” secara detil dan memuaskan tentang bagaimana Tuhan menciptakan beraneka macam makhluk hidup di dunia ini dari jaman dahulu hingga yang akan datang. Manusia memiliki keterbatasan dalam menggali informasi masa lalu ketika tidak ada dari kita satupun yang jadi saksi. Penemuan-penemuan fossil yang dianggap sebagai bukti paling konkrit dari proses evolusi juga masing begitu banyak kekurangannya.  Apa yang telah didemonstrasikan oleh Tuhan ketika memberikan mu’jizat kepada nabi Isa as dan Musa as pun tidak bisa digeneralisasi bahwa mungkin begitulah semua makhluk hidup diciptakan Tuhan. Demikian juga dengan perubahan dari wujud manusia menjadi wujud kera yang terjadi pada sekelompok kaum Bani Israel mungkin tidak bisa digeneralisasi bahwa perubahan makhluk hidup dari satu spesies ke spesies lainnya terjadi seperti itu di alam. Begitu banyak misteri kehidupan di alam ini yang belum terungkap, mungkin sebagian besar tidak akan pernah terungkap. Apa yang telah diberitakan Allah Swt dalam AlQur’an menunjukkan kemahakuasaan Allah Swt. Satu atau sekelompok makhluk dapat tercipta langsung dari tanah yang nota bene adalah benda mati, jika itu dikehendaki-Nya, sementara sekelompok makhluk lainnya mungkin berasal dari makhluk sebelumnya. Proses evolusi ataupun proses non-evolusi mungkin saja terjadi jika Allah menghendaki, dan hal itu merupakan sesuatu yang mudah bagi Allah, jauh lebih mudah terjadinya dibandingkan proses penciptaan langit dan bumi yang memerlukan tahapan panjang.           Kekhawatiran pada umat Islam muncul ketika teori evolusi ini dirasuki paham ideologi dan paradiagma ateistik yang menegasikan kehadiran Zat Yang Maha Pencipta. Selain itu sains Biologi khususnya juga tampaknya secara berlebihan menjadikan teori evolusi semacam dogma yang tak terbantahkan, padahal begitu banyak hal-hal yang masih merupakan misteri untuk menyatakan bahwa proses evolusi adalah sebuah realita. Begitu banyak juga penemuan modern mutakhir yang menunjukkan skenario evolusi Darwinisme merupakan sebuah penyederhanaan atas fenomena kehidupan yang begitu kompleks. Dunia membutuhkan kejujuran para ilmuwan yang dapat berbicara secara objektif tentang fakta fenomena alam. Sayangnya berbagai peristiwa dalam perkembangan teori evolusi menunjukkan begitu banyak interpretasi subjektif, dugaan-dugaan bahkan kebohongan mewarnai dunia ”ilmiah” tersebut.



Sumber: Dr. Taufiqurrahman  || Dosen SITH Institut Teknologi Bandung
Ilustrasi dan gambar ditambahkan oleh Admin
Assalamualaikum,, .

Dicopy dari Blog Pak Rinaldi Munir|Dosen STEI ITB


Pada awal semester perkuliahan saya selalu memberikan pesan-pesan kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah yang saya ampu. Saya katakan kepada mereka bahwa pergi kuliah bukanlah untuk mencari nilai (A, B, dan seterusnya), tetapi tujuan kuliah adalah untuk menimba ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Jika orientasi kuliah untuk memperoleh IPK tinggi, maka tujuan Anda kuliah di sini sudah melenceng. Kalau orientasinya nilai, Anda bisa meminta kepada saya mau nilai apa, mau A, B, C, tinggal pilih saja nanti saya beri. Mau? Semua mahasiswa menggeleng.
Baik, saya teruskan nasihat saya.
Mengapa tujuan kuliah bukan untuk mengejar nilai atau IPK tinggi? Jika itu tujuannya maka mungkin saja ada orang yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh nilai bagus, mungkin ia menyontek dalam ujian, mungkin ia melakukan copy paste pekerjaan orang lain dalam membuat tugas, dan lain-lain. Caranya tidak penting, yang penting dapat nilai bagus.
Lihatlah sekarang ini, banyak orang melakukan berbagai jalan pintas untuk mencapai tujuan dengan cara-cara instan tetapi ilegal. Ada calon anggota dewan yang menggunakan ijazah palsu supaya lolos seleksi administratif. Ada akademisi yang melakukan plagiasi paper agar bisa naik pangkat.Ada mahasiswa yang mengorderkan pengerjaan Tugas Akhirnya kepada orang lain atau “membeli” skripsi dari biro jasa lalu mempermaknya seolah-olah buatan sendiri. Ada pengusaha yang memberi uang suap supaya menang tender. Ada politisi yang memanfaatkan kedudukannya untuk memperoleh uang ‘panas’. Ada pejabat negara yang memanipulasi anggaran untuk memperkaya dirinya.
Semua perilaku yang ilegal di atas terjadi karena banyak orang yang hanya mementingkan hasil akhir ketimbang prosesnya. Proses tidak lagi penting, yang penting adalah hasil akhirnya sesuai dengan tujuan yang dia inginkan, karena itu berbagai cara instan ditempuh untuk memperoleh hasil akhir itu tanpa mempedulikan cara yang ditempuhnya salah.
Pendidikan itu tidak berorientasi pada hasil akhir, tetapi pada proses di dalamnya. Hasil akhir memang penting sebagai tolak ukur tetapi proses untuk mencapainya jauh lebih penting. Mahasiswa harus menjalani serangkaian proses belajar yang panjang, meskipun melelahkan, agar nanti memperoleh hasil yang memuaskan. Hasil akhir, yang dalam hal ini nilai kuliah, harus diperoleh dengan cara perjuangan. Saya sendiri dalam membimbing Tugas Akhir (skripsi) selalu memberi nilai mahasiswa berdasarkan proses dan kerja keras yang dia lakukan selama mengerjakan TA, bukan hanya pada perangkat lunak atau laporan akhir semata.
Saya menutup nasihat dengan mengatakan bahwa tujuan kuliah adalah untuk menimba ilmu atau menuntut ilmu, nilai soal belakangan. Ada proses di dalamnya yang harus dilakukan. Percayalah jika proses belajar dilakukan dengan baik maka nilai akan menyusul dengan sendirinya nanti. Setiap orang akan mendapat nilai sesuai jerih payah perjuangannya.

Sunday, 4 August 2013

Assalamualaikum,, .

Kalau saya dengar nama Jujun Junaedi , maka saya langsung terkenang masa kecil , ya,, sejak kecil tiap subuh pagi melalui radio kayu saya selalu mendengarkan Ceramah Ustadz Jujun,, Jujun Junaedi Lahir di Sukawening Garut, terkenal sejak kecil sebagia ahli pidato,, dia terkenal di tatar Priangan, an pernah juga tampil di Acara Empat Mata bersama Mang Tukul,,,
   Materi dakwah yang dia sampaikan dengan kocak walau tetap berisi,, terutama yang akan saya share kali ini tentang Nikah,,, ya ,, kata Beliau Secara Umum manusia pernah diramaikan minimal 4 kali,, yaitu waktu Lahir , Sunat, Nikah dan Mati,, manusia selalu bilang,, dari keempat kejadian tersebut yang paling enak adalah Nikah,, namun kenapa banyak yang tidak bahagia?? temukan jawabannya  sendiri.. haha

 Oya, beliau juga memaparkan bagaimana cara memilih Istri yang Salihah,, pokoknya dijamin seru hahaha,,,,
Rugi deh yang gak yag gak denger,,,



Download 46 menit- 11 MB (Basa Sunda)